IMG-20160801-WA0008

“Ini tentang berusaha sebaik-baiknya karena telah ada Perencana Terbaik yang mengaturnya.”

Ia baru saja berdiri
Tiba tiba kemudian terjatuh

Ia baru saja tertawa
Tak lama sudah menangis sendiri terpojok

Ia baru saja jatuh hati
Kemudian tak disangka harus patah hati

Ia baru saja mulai berlari
Ternyata harus berhenti

Ia baru saja berharap
Dan sekejap harus kecewa

Tak diduga

Ada sang ibu yang tak pernah sempat memeluk bayinya
Ada sang ayah yang tak pernah sempat mengumandang azan di telinga sang buah hati

Ada padi yang layu tanpa sempat menguning
Ada kecebong yang tak pernah menjadi katak

Ada hati yang jatuh tanpa sempat dimiliki
Ada suara yang berbunyi tanpa sempat didengar

Tak pernah sesuai rencana

Rabb,
Terkadang hidup ini seperti roller coster

Berulang kali ketakutan, tak tahu arah, tersesat
Tapi selalu Kau berikan keberanian, petunjuk, dan jalan keluar

Kau sendiri yang mengatakan
Kesulitan itu selalu akan diikuti kemudahan-kemudahan

Ini tentang kepercayaan dan keberanian
Menjalani rahasia-rahasiaMu, Rabb

#Proyek30HariMerayuAllah

 

NEGERI PARA BEDEBAH dan NEGERI DI UJUNG TANDUK berhasil membuat saya belajar tentang Mafia Hukum dan organisasinya di dalam negeri. Dan ternyata,Tere Liye melalu novel PULANG nya  justru mengajarkan saya sebuah sistem yang menarik dari organisasi yang disebut shadow economy. Entah itu mafia hukum ataupun shadow economy, pada dasarnya semua keberhasilan itu dibangun oleh sistem manajemen yang baik dengan keterampilan dan pengetahuan orang-orang didalamnya yang berada diluar kebiasaan. Membaca novel novel ini membuat saya memahami pepatah yang mengatakan bahwa kebaikan yang tidak terencana akan dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terencana.

Baiklah, selamat membaca resensi  tentang PULANG karya Tere Liye.

 

Judul : PULANG Penulis : Tere Liye Penerbit : Repubilka Terbit : September , 2015 Tebal : iv + 400 halaman (Sumber : fanpage Republika Penerbit

Judul : PULANG
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Repubilka
Terbit : September , 2015
Tebal : iv + 400 halaman
(Sumber : fanpage Republika Penerbit)

ANAKMU TELAH PULANG

Namanya Bujang, anak yang terlahir, tumbuh, dan berkembang hingga 15 tahun  usianya di lereng Bukit Barisan. Kesetiaan ayahnya, Samad, pada Keluarga Tong menariknya melangkah keluar dari lereng Bukit Barisan. Kepergiannya diantar dengan air mata dan sebuah pesan dari mamaknya, Midah.

“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam diam jika bapak kau tidak ada dirumah…” Mamak diam sejenak, menyeka hidung, “Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…Mamak tahu…Tapi, tapi apapun yang akan kau lakukan disana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram atau kotor. Kau juga tidak menyentuh tuak dan segala minuman haram.”

Keluarga Tong membawanya ke ibukota provinsi. Keluarga ini mendidik Bujang untuk menjadi pelengkap dari puzzle kekuasaan yang ingin dicapai oleh Keluarga Tong. Kehadiran Bujang dan pengikut setia lainnya mengantarkan Keluarga Tong bertansformasi menjadi penguasa shadow economy di negeri ini dalam sepuluh tahun terakhir.

Shadow economy atau sebagian orang sering menyebutnya sebagai black market, underground economy saat ini bukan lagi sekedar tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, prostitusi, atau judi. Shadow economy saat ini telah bertransformasi menjadi sebuah institusi di balik bayangan yang menggerakkan perekonomian dunia. Institusi ini bergerak dalam hal pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir hingga penemuan dunia medis yang tak ternilai. Transformasi shadow economy saat ini mampu menjadikan sesuatu yang gelap menjadi remang, mengubah yang remang menjadi terang. Menjadikan sesuatu yang illegal menjadi bisnis legal.

Shadow economy di negeri ini adalah sebuah institusi yang dipimpin oleh seorang Tauke Besar, keturunan dari Keluarga Tong sebelumnya, yang memiliki visi besar untuk memiliki masa depan. Tauke Besar menyakini bahwa masa depan Keluarga Tong bukan ditangan orang yang hanya pandai berkelahi tapi juga pintar. Institusi ini pun bekerja dan bergerak dengan sistem organisasi yang ramping, efektif, dan efisien dengan menerapkan sistem manajemen kelas dunia. Orang-orang di dalam keluarga ini diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri mereka dan disediakan fasilitas terbaik. Harga untuk semuanya hanya satu yaitu kesetian pada Keluarga Tong.

Bujang, anak angkat Tauke Besar ini, mendapat kesempatan itu. Di usia 15 tahun saat ia tak pernah menyentuh bangku sekolah kecuali ajaran dari mamaknya, oleh Tauke Besar ia diajar oleh Frans dari Amerika Serikat untuk mengejar ketertinggalannya dalam hal sekolah. Frans mampu mengantarkannya lulus menjadi mahasiswa disalah universitas negeri terbaik di ibukota. Kopong, kepala tukang pukul Keluarga Tong melatihnya menjadi tukang pukul terbaik. Guru Bushi, seorang samurai sejati didatangkan dari Tokyo untuk melatihnya menjadi samurai terbaik. Salonga dari Tondo, Manila yang merupakan penembak ulung dan terbaik di Asia mendidiknya menjadi penembak terbaik. Guru-guru yang ditunjuk oleh Tauke Besar untuk Bujang adalah guru guru terbaik yang tak sekedar mengajarkan keterampilan tapi juga prinsip kehidupan.

Guru Bushi pernah berkata padanya, “ Ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka lebih dahulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang.”

Salonga selalu mengatakan, “Pistol ini hanya benda mati, Bujang! Tidak bisa berpikir. Tidak bisa menembak sendiri. Yang berpikir adalah orang yang memegangnya.”

Bujang bertransformasi menjadi seorang laki-laki yang memiliki dua sisi kehidupan. Satu sisi terang dan dikenali sebagai seorang mahasiswa. Dan satu sisi gelap, tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Si Babi Hitam, tukang pukul Keluarga Tong. Ia menyukai dua sisi itu, menikmati transisi saat menjadi sosok terbuka, ramah, dan bersahabat dengan orang banyak untuk kemudian berdiri dibawah bayangan, menatap sekitar tanpa mereka tahu bahwa ia sedang memperhatikan banyak hal.

Bujang, Si Babi Hitam, sejak berhasil menyelamatkan Tauke Besar dari serangan babi hitam raksasa di hutan rimba Sumatra sudah kehilangan rasa takut. Kesempatan belajar dan berlatih dengan kerja keras dan penuh disiplin menjadikannya sebagai tukang pukul khusus bagi Keluarga Tong.  Ia tumbuh menjadi “tukang pukul” yang disegani. Ia adalah agen Keluarga Tong untuk menangani masalah-masalah masalah khusus yang tidak bisa diselesaikan sekedar dengan senjata tapi membutuhkan diplomasi dan negosiasi. Darah “tukang pukul” yang mengalir dari kakek dan bapaknya serta perpaduan darah religious dari kakek Tuanku Imam dan mamaknya menjadikannya ia seorang tukang pukul yang berprinsip.

Berbeda dengan Basyir, teman pertamanya saat ia tiba di markas Keluarga Tong. Baasyir adalah adalah tukang pukul sejati di Keluarga Tong yang diambil oleh Kopong dari jalanan. Ia yang sangat menyukai pepatah lama suku Bedouin yang berbunyi, “I against my brother, my brothers and I against my cousin, then my cousin and I against stranger”, ini mendapat kesempatan yang sama dari Tauke Besar. Saat Bujang mendapat kesempatannya untuk melanjutkan sekolah masternya di Amerika, maka Basyir mendapatkan kesempatannya ke Timur Tengah untuk menjelajahi kawasan tersebut. Belajar menjadi penunggang kuda suku Bedouin, hidup di gurun pasir, hidup nomaden, dan berlatih menjadi ksatria terbaik bagi Keluarga Tong. Tauke Besar menyiapkan Bujang dan Basyir sebagai pion-pion yang kelak akan melanjutkan silsilah kejayaan Keluarga Tong di masa depan.

Kejayaan Keluarga Tong yang terkadang dicapai dengan mengusir kelompok atau keluarga shadow economy lainnya membuat keluarga ini harus menghadapi serangan dan ancaman dari luar. Bahkan kejayaan Keluarga Tong ini harus dibayar dengan nyawa-nyawa kesetiaan. Bukan ancaman atau serangan dari luar yang sebenarnya dapat menghancurkan kejayaan keluarga ini, melainkan pengkhianatan. Dan siapapun bisa menjadi pengkhianat.

Kopong sebelum meninggal pernah berkata pada Bujang, “Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait mengait. Jaga Tauke Besar, jaga keluarga Tong. Besok lusa kaulah yang akan menjadi tauke di sini. Kau bisa membawa seluruh keluarga ini kemana pun kau suka. “ Seolah mengingat pesan itu, ketika terjadi pengkhianatan oleh Basyir karena masa lalu yang menuntutnya maka Bujang pun berusaha melindungi Tauke Besar dan anggota keluarga lainnya yang masih setia dengan seluruh kemampuannya.

Tapi ternyata kematian Tauke Besar menyusul kematian mamak dan bapaknya. Kematian ini membuat Bujang harus akrab kembali dengan rasa takut setelah sekian puluh tahun. Sejak menyelamatkan Tauke dari serangan babi raksasa di lereng rimba Sumatra, Bujang tidak lagi memiliki rasa takut kecuali kematian orang terdekat. Ada tiga lapis benteng rasa takutnya. Lapis pertama terkuak saat mamaknya pergi. Satu lagi saat bapaknya pergi. Dan akhirnya lapisan terakhir saat Tauke Besar mati. Ia takut, jika Tauke Besar pergi maka ia tak punya lagi tempat untuk pulang.

Saat ketakutannya muncul, saat itu pula ia bertemu dengan Tuanku Imam, kakak tertua dari Midah, mamaknya. Suara adzan subuh yang selalu setia mengantarkan berita kematian orang-orang terdekatnya entah itu mamaknya, bapaknya bahkan Tauke Besar membuatnya tidak suka mendengar suara adzan. Suara adzan membuat kepalanya mau pecah, dadanya sesak, nafasnya menderu, dan selalu berharap suara berisik itu segera berakhir. Menyadari Bujang yang tidak menyukai suara adzan membuat Tuanku Imam mengajak Bujang menaiki menara masjid yang berfungsi mendengarkan adzan hingga jauh. Dari menara tinggi ini, Tuanku Imam menunjukkan keindahan sunrise.

Tuanku Imam menunjukkan bahwa mau atau tidak mau, sempat atau tidak sempat kita memandangi sunrise, toh matahari akan selalu terbit. Begitupula hidup yang merupakan perjalanan panjang. Hidup tak selalu memberikan kabar baik bahkan hidup tak perlu mengetuk pintu untuk membawa tangis atau tawa. “Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan.” kata Tuanku Imam. Hidup di depan akan selalu membawa kenangan dibelakang. Tak bisa memilih kenangan mana yang hendak dibawa, kenangan tawa atau pilu. Tuanku Imam yang selalu mendapat kabar tentang Bujang melalui Kopong sejak puluhan tahun tearkhir, telah mengetahui perjalanan hidup Bujang. Banyak pengalaman meyakitkan membuat kabut pada hati Bujang.

Tuanku Imam dari atas menara tinggi itu mencoba mengurai lilitan ketakutan dan kebingungan pada diri Bujang yang ia panggil Agam.

“Peluklah  semuanya, Agam. Peluk erat-erat. Dekap segala kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak.”

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. Kau membenci suara adzan misalnya, benci sekali, mengingatkan pada masa lalu. Itu karena kau tidak pernah mau berdamai dengan kenangan tersebut. Adzan tidak dirancang untuk menganggu, suara berisik itu bukan untuk menyakiti siapapun. Itu justru suara panggilan. Kau tidak pernah mau berdamai dengan hatimu sendiri, Nak, itulah yang membuatmu benci pada suara adzan.”

“Agam kembalilah. Pulanglah pada Tuhanmu. Perutmu bersih, itulah cara mamak kau menjagamu agar tetap dekat saat panggilan untuk pulang telah tiba. Berdiri tegaklah pada kebenaran.”

“Rebut kembali kekuasaan Keluarga Tong! Kau ditakdirkan memimpin keluarga itu dan mengubah haluannya.”

Melihat Bujang yang masih tak yakin akan keberaniaannya, Tuanku Imam memintanya untuk menafsirkan ulang seluruh pemahaman hidupnya sambil menatap matahari terbit. Memintanya untuk menerjemahkan kembali makna keberanian.

Akhirnya, dibawah cahaya matahari pagi, Bujang kembali membangun keberaniaannya dengan cahaya terang. Keberaniaan yang tidak pernah ia pahami atau lakukan selama ini. Walaupun ia tak tahu harus bagaimana mengalahkan Basyir tapi ia kan berusaha sebaik mungkin dan menyerahkan sisanya pada pemegang takdir kehidupan.

Ketika perlawanan dimulai, disaat itu panggilan kesetiaan yang akan datang. Ambisi Basyir yang dibungkus dalam keinginan balas dendam atas kematian orang tuanya akibat prosedur Keluarga Tong di masa lalu pada akhirnya membuatnya Baasyir harus mengakui kemenangan Bujang bersama orang-orang yang setia hati padanya. Kemenangan pertempuran kali ini akhirnya menjadikan Bujang sebagai Tauke Besar, kepala Keluarga Tong saat ini, memimpin ribuan anggota keluarga dan puluhan perusahaan yang tersebar di seluruh kawasan Asia Pasifik. Bujanglah penentu haluan baru bagi keluarga shadow economy ini.

Dua puluh tahun ia tak pernah mengunjungi lereng Bukit Barisan. Dua puluh tahun ia tak pernah pulang. Akhirnya di penghujung novel ini, Tere Liye membawa Bujang  duduk di sebelah pusara Mamaknya di lereng Bukit Barisan dengan mengucapkan, “Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang.”

 

(Ja)Tuh Cinta di Gondanglegi.

Posted: November 24, 2015 in Uncategorized

Madrasah Ibtidaiyah Zainul Ulum, Ganjaran, Gondanglegi. Kami, para relawan bersama suasana sejuk khas pedesaan menyambut pagi dengan semangat bersama ratusan adik-adik di MI Zainul Ulum. Pertanyaan, “Apa kabar adik-adik?” dari Mas Fajar, salah satu relawan pengajar dijawab dengan kompak serta gegap gempita oleh adik –adik yang mengikuti apel pagi hari itu, “Alhamdulillah, luar biasa…..”. Suara semangat yang tanpa sengaja menular kepada sekitar mereka. Teman-teman mereka, guru-guru mereka dan tentunya kepada kami.

DSC_1098

Relawan Pengajar, Fotografer, Videografer, dan Fasilitator Rombel 55

Ini kelas inspirasi pertama yang mempermainkan emosiku. Kelas dua yang kupikir bisa kooperatif untuk kuajak bermain dan bernyanyi ternyata menyambut perkenalanku dengan tangisan dari dua orang siswa. Bahkan ketika aku belum menyentuh mereka. Stetoskop yang kuletakkan diatas meja bersama dengan jas dokter sebagai alat peragaku lebih menarik perhatian seorang anak laki-laki daripada kehadiranku. Willy, namanya.

DSC_1166

Willy, laki-laki yang memilih berlari memutari kelas jika tak didekap.

Ketika aku meletakkan perlengkapan tempurku, ia sudah bisa lari kearah belakangku untuk mencoba stetoskopku. Aku yang tahu kelakuaannya pun awalnya berusaha untuk mengabaikannya. Tapi nyatanya tingkahnya justru menjadi awal keriuhan dikelas itu untuk memperebutkan stetoskop. Ada yang berusaha untuk meminta agar Willy untuk duduk, ada yang berusaha maju ke depan ternyata menyenggol temannya hingga jatuh akhirnya menangis, ada yang sudah maju ke depan dan berebutan stetoskop dengan Willy.

Akhirnya aku harus bertindak. Kuminta stetoskop itu dari Willy, “Kakak guru pinjam dulu ya?”. Tapi dia tetap menggenggamnya sambil mengarahkan bagian diafragma (bagian yang biasanya menempel jika memeriksa pasien) ke arah dadanya. Kemudian berbicara dengan bahasa yang belum aku mengerti ( yang ternyata bahasa Madura), tapi seperti kusimpulkan maksudnya adalah, “Aku mau diperiksa seperti ini.”

“Iya nanti kita belajar sama-sama pakai stetoskop ini ya.” sambil kuambil tanpa menunggu persetujuannya dan kuarahkan ia menuju bangkunya.

Akupun menghampiri seorang anak laki-laki yang menangis dan kutanya, “Kenapa, sayang?”

Dalam sesenggukannya aku tak menangkap jawabannya hingga teman disebelahnya yang melihat wajah bingungku berkata, “Dia didorong sama David, Bu.”

“David yang mana?” kuarahkan pandanganku pada anak-anak yang mengelilingiku. Dia yang kucari ternyata duduk dibelakang Syifa’, anak laki-laki pertama yang menangis. Ia pun sudah menundukkan pandangannya dan mulai mengeluarkan tetes-tetes air mata. Aku semakin bingung. Lalu kucoba merangkulnya.

“Saya nggak sengaja, Bu.” jawabnya sebelum saya bertanya.

“Ya sudah. Syifa’ sudah dengarkan kalau David nggak  sengaja. Mau saling maaf khan?”

Lalu mereka pun saling mengulurkan tangan dan bilang, “Maafin ya.” Ahhhh…saya jadi terharu melihat kedua anak laki-laki  ini yang dengan mudah berlapang dada untuk saling memaafkan.

Selesai dengan David dan Syifa, aku harus menuju Camelia, anak perempuan lainnya yang sedang menangis juga. Aku yang tidak mengerti pun menghampirinya, “Ada apa sayang?”

“Bella, nggak ngebolehin saya pegang alat Ibu.” sambil menunjuk stetoskop yang sudah melingkar di leher ku.

“Semua boleh kok. Abis ini kita main bareng-bareng ya. Mana Bella?” Lalu seorang anak perempuan menunjuk anak perempuan lainnya yang bernama Bella. “Ayo Bella kesini.” Kataku. Tapi anak perempuan yang disebut Bella itu pun tidak mau beranjak dari mejanya. Bahkan menoleh pun tidak.

Camelia pun berkata, “Saya nggak  mau maafin Bella, Bu.”

Nggak boleh gitu, donk.” Kataku. Melihat kedua tingkah anak perempuan ini kuputuskan untuk memebiarkan mereka saja dulu. Kalau menunggu kedua anak perempuan ini berbaikan sepertnya akan habislah jam ku dikelas ini. Maka ruangan pun langsung kukondisikan. Melihat Willy yang terus berlari dikelas, berpindah dari satu meja ke meja lainnya, dari satu bangku ke bangku lainnya. Akhirnya kuputuskan bahwa permainan di kelas ini dilakukan sambil duduk.

Setelah aku mengambil posisi duduk dan kuminta untuk duduk membuat lingkaran. Akhirnya satu per satu pun duduk rapi. “Hai…hai..” kataku.

“Halo..halo..” jawab mereka.

Willy yang masih duduk, berdiri, berpindah tempat, menggeser temannya, akhirnya kupanggil untuk duduk di sampingku. Untuk menenangkan tingkahnya akhirnya selama kegiatan berbagi impian melalui stetoskop, Willy yang duduk disampingku kurangkul agar dia tidak bergerak-gerak menggoda temannya. Akhirnya walaupun dimulai dengan duduk, pada akhirnya di beberapa menit terakhir sebelum berakhir, kami berbagai impian sambil berdiri. Dan Willy ketika tiba gilirannya, ia malah ingin mendengar suara jantungku.

IMG_8911

Bersama Willy dan teman-temannya. Kelas II MI Zainul Ulum.

Dia membuatku jatuh cinta. Willy berhasil mempermainkan emosiku. Dari hendak marah hingga membuatku merasa ingin terus merangkulnya. Setidaknya hari ini aku belajar bahwa anak-anak pun punya emosi. Dan setiap anak punya caranya masing-masing untuk mengelola emosinya entah itu bahagia, marah, sedih, atau emosi menggoda. Jangan tuntut mereka untuk menjadi sama dengan teman-teman mereka yang lain karena mereka terlahir dan tumbuh serta berkembang dengan cara yang mereka beredar. Setidaknya kita sebagai orang dewasa yang berada disekitar mereka memastikan bahwa emosi emosi mereka bisa dikelola dengan baik oleh mereka.

#Kelas Inspirasi Malang, Gondanglegi, 21 November 2015.

Manfaat sedekah itu 4 in 1, yaitu
a. Tolak bala
b. Mudah rezeki
c. Mudah jodoh
d. Memelihara kesehatan
* Ippho Santoso

Ayooo sedekah😀

Quote  —  Posted: May 25, 2015 in Uncategorized

Beberapa hari ini mencoba mengingat ingat kata Pak Tua dalam salah satu novel favorit saya, akhirnya saya menemukan cuplikannya, “Camkan ini, Borno. Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarganya sendiri, teman sendiri. Padahal siapalah orang yang tiba-tiba mengisi kehidupan kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Mei misalnya, baru kau kenal setahun kurang. Sedangkan Andi? Kau kenal dia sejak bayi, satu ayunan. Apa yang telah dilakukan Mei buat kau? Apa yang tidak dilakukan Andi? Apa Mei pernah menyelamatkan kau yang hampir tenggelam di Kapuas?”

Jangan ditanya ada berapa juta manusia yang jatuh cinta tiap harinya begitupula dengan yang patah hati. Jatuh cinta itu bisa seperti marshmallow yang manis dengan berjuta rasa. Tapi setiap kali jatuh cinta maka siapkan pula diri untuk kemungkinan patah hati.

Anak muda yang menawarkan perjuangan cinta tidak selalu berhasil menakhlukkan keadaan untuk berpihak pada pilihan cintanya. Tidak masalah. Seperti kata Gurutta dalam novel favorit saya lainnya, ““Dengan meyakini itu, maka tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama.”

Pengalaman cinta itu seperti pengalaman hidup lainnya saat sekolah atau bekerja untuk mencapai impian dan cita-cita. Kau bisa berhasil, bisa pula gagal. Mungkin bedanya tipis, saat kau menyusun rencana cintamu, mungkin kau menggunakan porsi perasaan jauh lebih besar daripada porsi logikamu. Padahal cinta itu pun tentang logika.

Kalau pada akhir kisah cinta yang kau buat menuntunmu pada sebuah pilihan untuk melepaskan maka lepaskanlah. “Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.” kata Gurutta.

Lepaskan sekarang juga. Karena cinta yang baik itu bukan sekedar menuntut pembuktian secara lisan tapi tertulis secara agama dan hukum. Kalau setelah melepaskan kau merasakan rindu maka bunuhlah setiap detik rasa rindu itu dengan  kesibukan kebaikan. Dan biarkan waktu yang kelak akan memberikan jawaban pengharapan dalam doa-doa dan usahamu.

– tiba-tiba ingin menulis tentang ini-

Setelah misi GREEN CANYON FAILED, hari ini misi CIWIDEY harus LANCAR.

21.06.12

Berangkat dari Buah Batu pkl 08.00.  Rencana awal adalah menaiki angkot dari Pizza Hut Buah Batu – Kopok dilanjutkan Bison ke terminal Ciwidey. Tapi, sepertinya abang angkotnya bukan orang asli Bandung, akhirnya kami diturunkan di terminal Leuwipajang. Dari terminal ini, kami naik bus umum  ke terminal Ciwidey. Terminal Leuwipajang – Ciwidey cukup Rp. 7.500. Bus penuh barulah kami berangkat, pkl. 09.30. Read the rest of this entry »

Ini jadwal https://www.facebook.com/notes/meralda-nindyasti/agenda-backpacking-malang-bandung-jakarta-juni-2012/10151064359578646 yang dirancang @e_merald setelah diskusi dengan saya dan @iim_karimah.
Agenda ini sengaja kami susun untuk memenuhi impian kami menjelajahi GREEN CANYON versi Indonesia. InsyaAllah ke GRAND CANYON di Kanada menyusul 
Setelah berangkat dengan jalur dan waktu yang berbeda akhirnya kami bertiga berkumpul di stasiun KA Bandung.

Petualangan, Let's start

Petualangan, Let’s start

Read the rest of this entry »