Dobrak Zona, Ku!

Posted: February 13, 2012 in My Story
Tags: , , ,

Malang, 12 Februari 2012

Udara rutinitas sering kali membuat kebosanan dan kekerasan pada hati.
Berada pada zona kenyamanan seringkali membuat kita tidak pernah tau akan sekitar kita yang sesungguhnya.
Memperkirakan kegagalan seringkali menjadi alasan kita untuk memperhitungkan melepas “zona kenyamanan”.
Hari ini kebosanan ini sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Menghitung dosis obat, mendengar rentetan berbagai penyakit, mengingat kegalauan yang tak berujung bahkan menghabiskan waktu disekitaran kosan dan rumah sakit menjadi tidak menarik lagi hari ini.

Panderman Mountain

Panderman Di Pagi Hari


Udara Panderman pagi ini terasa sejuk mengelus wajahku. Sudah lama tidak terulang. Setelah segala rutinitas dan kehidupan sebagai dokter muda mengikatku.
Kesejukan ini menemaniku “menertawai” kegagalan lalu bersama Supra X 125 cc pinjaman dari Lombok.
Mencoba mengingat kegagalan-kegagalan yang terkenang setahun terakhir ini.
Pertama. Kegagalanku membantu pasien pertamaku di Bangil, seorang kakek yang mengalami gagal ginjal kronik, untuk menikmati dunia ini lebih lama.
Selanjutnya. Ujian dokter muda pertamaku bersama dr. Putra, Sp.PD di R. 25 . Salah melakukan shifting dullness. Dan kata beliau, “I can’t trust ur data if u can’t do the right physic diagnostic.”
Next. Menjadi dokter muda THT dibawah pengawasan dr. Lukmantya, Sp.THT seolah membuatku merasa bahwa kami terlalu muda untuk menjadi seorang dokter sesungguhnya. Ke’gombal’an kami selalu menjadi celah cantik bagi beliau untuk selalu berada diantara kami. Tapi itu membuat kami bahagia.
The up next. Kegagalanku saat mengejar seseorang yang sempat menarik perhatianku. It’s my first experience and I’m failed. Penolakan secara halus. Merasakan penyesalan atas kebodohan tindakan ‘mengejar-ngejar’. Menertawai kebodohan diri. Sudahlah, sudah berlalu 
Oke, berikutnya. Merasakan pengajuan tuntutan dari seorang keluarga pasien karena jahitan luka anaknya yang tak bisa tertutup rapat dan bernanah. Apa daya pembelaanku tanpa ingatan yang jelas. Untunglah bidan itu baik. Untunglah tak sepenuhnya salahku. Untunglah masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Untunglah aku masih bisa menarik nafas hingga hari ini.
For the last but not the least. Ketika mencoba untuk menjalani sebuah keseriusan diantara 2 hati. Hati ini terus menolak bimbang. Mengatakan, “ Ini bukan kebiasaanmu.” Setelah hati dan logika bermain, kuputuskan untuk mengistirahatkannya (apa lebih tepat ‘berakhir’, entahlah…entahlah). Penyesalan atas sebuah kebiasaan yang hilang kemudian datang. Tapi tak mau lagi kuulang kesalahan yang sama. Mengejar yang sepenuhnya tak yakin untuk kukejar. Biarlah dia berlalu dengan indah bersama takdirnya.
Kucoba hal baru yang tak pernah kucoba. Untuk mendobrak kemampuanku. Tapi kegagalan seolah selalu memburuku. Tapi tak sekalipun kusesali apa yang telah kulakukan. Sedih, tangis, kegelisahan, kegalauan, penyesalan sesaat, dan berbagai rasa berkecamuk saat impian dan kegagalan berlari beriringan.

Tak ada daya untuk menolak takdir yang sebenarnya tak bisa tertolak. Tapi, ada rasa puas pada diriku bahwa aku pernah mencoba dan mengalami kegagalan itu. Setidaknya aku tau rasa kegagalan itu. Dan aku tau rasa kepuasan itu. Aku pernah bahagia, aku pernah kecewa, aku pernah bosan, aku pernah tertawa,..aku pernah …pernah…pernah…merasakannya.

Thank u, life. It’s beautiful life. Hidup ini tidak selalu a, b, atau c. Tapi bisa menjadi az, abo, ade, atau yang lainnya. Life is mystery.

Aku Ingin, Ma

Posted: February 9, 2012 in inspiring people
Tags: , ,

Kepada
Mamaku tercinta

Malaikat dari Tuhan

Assalamualaikum. Wr. Wb
Ma, gimana kabar rumah? Read the rest of this entry »

Bukan Undangan Siri

Posted: July 22, 2011 in My Story
Tags: , ,

“Undangan Akad Nikah dan Walimatul Ursy” terbaca pada subject emailku, Alia Salsabila Putri Irhab. Kuklik dua kali di sudut tulisan itu, menunggu beberapa detik, membaca perlahan isinya, Read the rest of this entry »

Terdampar di Tulungagung bersama orang-orang yang awalnya hanya sebatas saya kenal membuat awalnya saya ragu untuk melangkah. Tapi itu tak membuat saya berhenti diatas keraguan itu. Read the rest of this entry »

Tulisan ini terinspirasi oleh Prof. Dr. dr. Istiadjid, Sp.S, Sp.BS, senior-senior NS yang lain, PPDS neurosurgery, and my lovely statemate in neurosurgery.


Biar nggak sulit mengingat urutannya, saya beri sedikit tips untuk mengingat yaitu dengan akronim OOO-TroTriA-FAG-VAH (emang rada maksa seh, tapi dijamin membantu,kok). Let’s go, kita review dulu:
N. I  Olfaktorius
N. II  Optikus
N. III  Oculomotorius
N. IV  Trochlearis
N. V  Trigeminus
N. VI  Abducens
N. VII  Facialis
N. VIII  Auditorius dan Vestibularis
N. IX  Glossopharyngeus
N. X  Vagus
N. XI  Acessorius
N. XII  Hypoglossus

N.I (N. Olfaktorius)
Bersifat sensorik. Menilai daya penciuman. Penilaian dengan cara meminta pasien memejamkan mata dan diminta membedakan apa yang dirasakan (kopi, tembakau, parfum,dll)

N.II (N. Optikus)
Menilai daya penglihatan dengan snellen card, funduscope, dan pemeriksaan lapang pandang.

N.III, IV dan VI (N. Oculomotorius, N. Trochlearis, dan N.Abdusen)
N.Oculomotorius menginervasi m. obliqus inferior (melirik ke atas nasal), m. rektus medialis melirik ke nasal), m.rektus superior (melirik ke atas temporal), m. rektus inferior (melirik ke bawah temporal), m.levator palpebra (mengangkat kelopak mata atas), m. sphincter pupil (untuk kontraksi pupil), dan m. siliaris (lensa mata/akomodasi).
N. Trochlearis menginvervasi m.obliqus superior (melirik ke bawah nasal).
N. Abdusen menginervasi m.rektus lateralis (melirik kea rah temporal).
Pemeriksaan N.III, IV, dan VI meliputi pemeriksaan reflek cahaya, gerakan bola mata, ptosis (minta membuka mata lebar-lebar,.liat apakah ada yang jatuh/layuh pada kelopak matanya), kedudukan bola mata (minta untuk memandang lurus ke depan, bila tidak sejajar disebut strabismus. Jika ketengah  strabismus konvergen. Jika kearah luar  strabismus divergen), akomodasi dan konvergensi.

N.V (N.Trigeminus)
Terdiri dari bagian motorik dan sensorik. Bagian motorik mengurus otot pengunyah yaitu m.masseter, m. temporalis, m.pterigoideus medialis, dan m. pterigoideus lateral (untuk menggerakkan rahang ke lateral dan membuka mulut). Bagian sensorik untuk sensibilitas wajah dan sebagian dalam kepala lewat cabgn N. V1 oftalmikus, V2 maxillaris, V3 mandibularis.
Pemeriksaan N.V terdiri dari pemeriksaan motorik (inspeksi rahang, menyuruh membuka dan menutup mulut, meminta pasien untuk menggigit dengan kuat, menggerakkan rahang bawah ke kiri dan kanan  liat deviasi, oklusi, dan rasakan kekuatan ototnya), sensorik, reflek kornea dan reflek masseter.

N.VII (N.Facialis)
N.VII a.k.a facialis bersifat motorik wajah (dinilai denganmenginfeksi kerutan dahi, kelopak mata, sudut mata, dan lipatan sudut mulut. Meminta mengernyitkan dahi/angkat alis, menutup mata sekuat-kuatnya adakah lagopthalmus atau tanda bell’s, meringis, mencucu dan memperlihatkan giginya, viscerosensorik/pengecap manis-asin-asam (sensoris 2/3 depan lidah), parasimpatis kelenjar air mata, untuk m.stapedius di telinga dalam untuk menilai apakah ada hiperakusis dengan stethoscope hearing balance test.

N.VIII (N.Auditorius dan Vestibularis)
Nervus ini terdiri atas n.cochlearis yang bertanggung jawab terhadap pendengaran dan n.vestibularis yang mengurus keseimbangan.
Gangguan pada n.cochlearis dapat menyebabkan tinnitus atau tuli terutama jenis tuli persepsi. Fungsinya dapat dinilai dengan tes bisik/gesek, schawabach, rinne, weber, dan audiogram.
Gangguan n.vestibularis dapat menyebabkan vertigo, rasa tidak stabil, kehilangan keseimbangan, nistagmus, dan salah tunjuk/past pointing. Pemeriksaaan dapat dilakukan dengan tes romberg (pemeriksa dibelakang pasien, pasien diminta berdiri tegak dengan kedua kaki rapat, tangan lurus kebawah dan minta penderita untuk membuka dan menutup mata  catat arah jatuhnya. Gangguan vestibular  jatuh baik saat mata terbuka maupun tertutup dan kesemua arah. Gangguan serebelum  jatuhnya saat mata terbuka maupun tertutup dan hanya kearah sisi yang lesi. Gangguan propioseptif  saat mata terbuka tidak jatuh dan saat mata tertutup jatuh ke semua arah), jalan tandem (penderita diminta berjalan setapak demi setapak dengan menghadap lurus kedepan, menyambung antartumit di 2 meter garis lurus lihat apakah pasien jatuh/tidak seimbang), tes telunjuk-hidung, dan tes kalori.

N.IX dan N.X (N.Glossopharyngeus dan N.Vagus)
Kedua nervus ini diperiksa bersamaan karena fungsinya hampir sama. Gangguan n.IX-X ini mengakibatkan disfagia (sulit menelan) hingga tersedak, disfonia/afonia, disatria faringeal, hilangnya reflek muntah, gangguan pengecapan 1/3 belakang lidah rasa pahit, gangguan otonom parasimpatis (bradikardi, hipotensi, dll). Ciri gangguannya berupa suara bindeng, senganu, disfonia/afonia, uvula asimetris, saat bilang ‘aagh’ gerakan palatum molle asimetris, saat minum tersedak dan reflek muntah menurun atau negative. Pemeriksaan dengan vernet rideau phenomenon  minta buka mulut dan suruh bilang ‘aagh’ lalu liat palatum molle apakah ada asimetris arkus faring atau deviasi uvula, reflek muntah, disfonia  minta menirukan kata-kata yang berasal dari otot faring seperti haha, gaga.

N. XI (N. Acessorius)
Hanya terdiri serabut motorik. Menginervasi m.sternocleidomastoideus dan m.trapezius. pemeriksaan dilakukan dengan menilai kekuatan dari kedua otot tersebut dan bandingkan kiri dan kanan.

N.XII (N.Hypoglossus)
Nervusi ini menginervasi otot ekstrinsik dan instrinsik lidah. Kelumpuhan oto ini ada jenis UMN dan LMN. Pada kelumpuhan UMN ditemukan deviasi ke sisi yang lumpuh data menjulurkan lidah, tidak ada atrofi, dan fasikulasi. Patokan deviasi adalah garis tengah atau gigi insisivus. Kelaianan nervus ini juga dapat berupa dysatria lingual yaitu tidak jelas pada bunyi “R” dan “L”. pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi (liat apakaha da atrofi lidah, fasikulasi, atau deviasi lidah)  minta untuk menjulurkan lidah  apakah ada deviasi catat arah deviasi), palpasi (diminta dengan lidahnya menekan area buccal kanan dan kiri nilai kekuatan lidah), dan disatria lingual  dengan meminta mengucapkan kata-kata dengan konsonan R dan L.

Ini rangkumannya deh,..

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kawan-kawan yang sedang dan ingin terus belajar.

Si Bocah dan Sang Kawan

Posted: April 29, 2011 in Fiction
Tags: ,

Sore itu, jantung bocah ini berdetak melebihi kapasitas normalnya, >100x/menit, saat ia harus duduk disebelah kawannya. Awalnya si bocah tak menyadari itu sebagai kejanggalan hingga akhirnya ia harus berpisah dan merindukan kawannya.
Si bocah sudah lama tau nama kawannya, tapi beberapa waktu terakhir ini ia mulai mengenal sedikit tentang kawannya. Read the rest of this entry »

Belajar dari Koas Junior

Posted: April 9, 2011 in My Story

“Menjalani kehidupan koas bukanlah sekedar mencari skill dan strategi untuk menjadi dokter yang baik, jauh lebih besar dari itu adalah belajar berinteraksi.” begitulah seorang teman menyadarkan aku.
Setelah menjalani stase 4 hari dibagian masing-masing, Jumat sering menjadi momok untuk sebagian koas bedah termasuk diriku. Jumat = Ujian. Stase aku dan rekan-rekan statemates minggu ini tentram hingga hari Kamis tiba. Senior terdahulu memindset kami dengan pikiran bahwa ujian stase ini berupa ‘diskusi hangat’. Tapi ternyata tiddak begitu dengan kelompok kami. “Besok, ujian ya! Satu-satu.” kata pembimbing stase kami usai morning report (MR).
“Satu-satu,dok?” perjelas seorang statemate, “Nggak diskusi kasus,dok?” sambil wajah senyum jahil kami serempak.
“Lo, kalau ujian ya, satu-satu donk! Ayo, ikut aku ambil bahannya.” seraya kami mengikuti beliau dari belakang ke arah ruang beliau.
Disodorkannyalah. Seonggok buku yang Senin lalu hanya kami kenal bernama ‘Apley’ dan kini sudah kami pelototi wujudnya. “Pelajari bab 22 dan 23 ya!”
Akhirnya, aku menawarkan diri untuk memphotocopykan, sedangkan mereka langsung bergerak ke poli. Aku kira itu dua bab yang singkat. Tidak setelah kami menyadarinya. Berbahasa Inggris pula. Saat itu, kelak aku berharap akan ada textbook berbahasa Indonesia.
Suasana poli tidak mendukungku untuk mencerna dua bab itu, tidak begitu dengan 2 statematesku dan seorang senior yang mengulang. Kami memanggilnya paman Gober. Karena ia gemar memanggil kami dengan trio kwek-kwek. Kucoba sesekali mengalihkan perhatianku dengan melihat foto-foto tulang yang teronggok di dekat kamar tindakan dan sesekali mengikuti diskusi hangat kawan-kawanku bersama ppds kami. Untunglah, pasien poli hari itu tidak terlalu ramai.

Tibalah pada Jumat. Jam 7 pagi waktunya MR pagi. MR pagi berlanjut dengan weekly. Usai pukul 08.10 waktu ruang MR. “Sudah siap?” tanya pembimbing kami.
“Belum.” serempak kami menjawab.
“Oke,.kita mulai jam 9 aja ya!”
Pukul 9, beliau mendatangi kami dengan seonggok labtop ditangan. Dan paman Gober pun mengambil giliran pertama. Sedangkan aku mendapat giliran terakhir setelah kami berhompimpa. Aku ingin duluan tapi takdir berkata lain. Tak apa. Kusenangkan diriku dengan kenyataan bahwa aku akan mendapat info lebih banyak. Kubolak-balik photocopyan yang tak kunjung selesai kubaca. Setelah usai giliranku, kami berempat pun dikumpulkan lagi oleh pembimbing kami.
“Aku memang tidak bisa menilai kalian secara keseluruhan. Aku pun baru mengenal kalian selama 5 hari terakhir ini. Yang hanya aku bisa nilai dari kalian hanya ketika aku menguji kalian. Mungkin pun penilaian aku salah. Tapi aku melihat sosok Kadek…bla..bla…bla… Sosok Meralda….bla…bla,..bla… Sosok Gustin…bla….bla…bla… Sosok Rizki bla..bla..bla… “ Menghela nafas panjang. “Yang terpenting dari seorang dokter adalah keberanian dan ketepatan dalam mengambil keputusan because u are a leader for ur patient. Itu yang ingin aku tanamkan pada kalian. “
Keluar dari ruang MR. Suasana hati kami berubah. Itu pasti. Dan semua orang punya cara masing-masing untuk menanggapi itu. Diriku mungkin memang tampak emotionless (ini kosakata yang aku dan beberapa kawan gunakan untuk menggambarkan para ppds kami yang memiliki muka datar) tapi percayalah diriku tidak careless.
Entah bagaimana cerita bermula. Saat perpisahan dengan senior kami. Kudapati kedua statemates ku sedang mengeluarkan air dari sudut matanya. “Kenapa kalian?” tanyaku
“Jangan tanya! Nanti makin netes neh!” jawab salah satunya. Kuputuskan untuk tidak bertanya dulu saat itu.
Usai perpisahan, kuhampiri salah seorang dari mereka dan kutanyakan pertanyaan yang sama hingga kutanyakan, “Apa itu karena aku?”
“Nggak kok,Tin. Nggak ada hubungannya sama Titin. Tadi itu kami sedang dalam suasana hati yang sama ditambah kata-kata dr. P.S (nama disamarkan). Jarang sekali khan kita ketemu seorang supervisor seperti itu. Beliau begitu berusaha mengenal dan menghargai segala usaha kita.”
“Mungkin selama ini pun, hubungan kita berdua, Tin, yang kita sadari masih sebatas tugas-tugas kita, referat, conference, dan MR koas. Tapi sebenarnya banyak hal yang aku pelajari dari Titin. “ lanjutnya.
Kubiarkan ia berkisah karena itu yang kubutuhkan saat ini. Sebuah percakapan yang ‘bermutu’ tak sekedar ‘bernilai’. “Suasana koas memang jauh berbeda saat kita preklinik dulu. Disini kita harus berinteraksi dengan banyak orang dengan segala sikap yang beragam. Dengan segala keadaan yang tidak pernah kita duga atau lebih senang aku menyebutnya ‘diluar rencana’. Aku mencoba belajar untuk memahami bagaimana setiap orang bereaksi terhadap aksi yang bekerja padanya. Aku menemukan itu sebuah pelajaran lain yang menyenangkan dari koas ini. Ya itulah, mencoba untuk mengenali dan memahami orang pribadi orang lain.”
“Terkadang aku mencoba untuk tidak memaksakan kehendakku pada orang lain. Menerima pendapat mereka. Tapi ternyata tak jarang, bicara orang-orang itu lebih ‘pedas’ dari apa yang sebenarnya terjadi.” tuturnya
Lalu kuingat pada sebuah statusnya yang singkat berisi, “orang-orang yang eksis di RS bukanlah orang-orang yang cerdas dan rajin tapi adalah orang-orang yang lidahnya lebih tajam dari sebilah pisau”( semoga nggak salah ingat y ^-^)
Kutimpali pula percakapan kami saat itu, “Iya,memang kehidupan koas ini tidak semulus seperti saat kita preklinik dulu. Terlalu sering dan terlalu banyak hal yang terjadi diluar dari rencana kita. Kejutan jackpot jumlahnya lebih banyak. Tapi itu justru menempa kita untuk lebih aware dan siap. aku lebih suka menyebutnya easy going with easy aware. Kita butuh kesigapan setiap saat. Hati dan pikiran ini harus siap dengan apa yang ada didepan.”
Intinya, pelajaran hari ini membuatku sadar. Ada yang sama pentingnya dari sekedar mengejar skill dan strategi untuk menjadi dokter yang baik, Koas (Sekumpulan Orang Selalu Salah kosakata untuk menggambarkan kehidupan koas walaupun tak menggambarkan secara keseluruhan) ini adalah sarana belajar mengenal dan berinteraksi dengan keadaan dan orang lain yang mungkin bisa bersahabat maupun tidak bersahabat dengan kita.
Kami akhiri perbincangan itu dengan sekotak kue dan sebotol teh Nda.

(Kupersembahkan untuk semua para koas yang sedang berjuang. Tersenyumlah untuk dirimu dan orang-orang disekitarmu)