Malang, 12 Februari 2012
Udara rutinitas sering kali membuat kebosanan dan kekerasan pada hati.
Berada pada zona kenyamanan seringkali membuat kita tidak pernah tau akan sekitar kita yang sesungguhnya.
Memperkirakan kegagalan seringkali menjadi alasan kita untuk memperhitungkan melepas “zona kenyamanan”.
Hari ini kebosanan ini sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Menghitung dosis obat, mendengar rentetan berbagai penyakit, mengingat kegalauan yang tak berujung bahkan menghabiskan waktu disekitaran kosan dan rumah sakit menjadi tidak menarik lagi hari ini.
Udara Panderman pagi ini terasa sejuk mengelus wajahku. Sudah lama tidak terulang. Setelah segala rutinitas dan kehidupan sebagai dokter muda mengikatku.
Kesejukan ini menemaniku “menertawai” kegagalan lalu bersama Supra X 125 cc pinjaman dari Lombok.
Mencoba mengingat kegagalan-kegagalan yang terkenang setahun terakhir ini.
Pertama. Kegagalanku membantu pasien pertamaku di Bangil, seorang kakek yang mengalami gagal ginjal kronik, untuk menikmati dunia ini lebih lama.
Selanjutnya. Ujian dokter muda pertamaku bersama dr. Putra, Sp.PD di R. 25 . Salah melakukan shifting dullness. Dan kata beliau, “I can’t trust ur data if u can’t do the right physic diagnostic.”
Next. Menjadi dokter muda THT dibawah pengawasan dr. Lukmantya, Sp.THT seolah membuatku merasa bahwa kami terlalu muda untuk menjadi seorang dokter sesungguhnya. Ke’gombal’an kami selalu menjadi celah cantik bagi beliau untuk selalu berada diantara kami. Tapi itu membuat kami bahagia.
The up next. Kegagalanku saat mengejar seseorang yang sempat menarik perhatianku. It’s my first experience and I’m failed. Penolakan secara halus. Merasakan penyesalan atas kebodohan tindakan ‘mengejar-ngejar’. Menertawai kebodohan diri. Sudahlah, sudah berlalu
Oke, berikutnya. Merasakan pengajuan tuntutan dari seorang keluarga pasien karena jahitan luka anaknya yang tak bisa tertutup rapat dan bernanah. Apa daya pembelaanku tanpa ingatan yang jelas. Untunglah bidan itu baik. Untunglah tak sepenuhnya salahku. Untunglah masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Untunglah aku masih bisa menarik nafas hingga hari ini.
For the last but not the least. Ketika mencoba untuk menjalani sebuah keseriusan diantara 2 hati. Hati ini terus menolak bimbang. Mengatakan, “ Ini bukan kebiasaanmu.” Setelah hati dan logika bermain, kuputuskan untuk mengistirahatkannya (apa lebih tepat ‘berakhir’, entahlah…entahlah). Penyesalan atas sebuah kebiasaan yang hilang kemudian datang. Tapi tak mau lagi kuulang kesalahan yang sama. Mengejar yang sepenuhnya tak yakin untuk kukejar. Biarlah dia berlalu dengan indah bersama takdirnya.
Kucoba hal baru yang tak pernah kucoba. Untuk mendobrak kemampuanku. Tapi kegagalan seolah selalu memburuku. Tapi tak sekalipun kusesali apa yang telah kulakukan. Sedih, tangis, kegelisahan, kegalauan, penyesalan sesaat, dan berbagai rasa berkecamuk saat impian dan kegagalan berlari beriringan.
Tak ada daya untuk menolak takdir yang sebenarnya tak bisa tertolak. Tapi, ada rasa puas pada diriku bahwa aku pernah mencoba dan mengalami kegagalan itu. Setidaknya aku tau rasa kegagalan itu. Dan aku tau rasa kepuasan itu. Aku pernah bahagia, aku pernah kecewa, aku pernah bosan, aku pernah tertawa,..aku pernah …pernah…pernah…merasakannya.
Thank u, life. It’s beautiful life. Hidup ini tidak selalu a, b, atau c. Tapi bisa menjadi az, abo, ade, atau yang lainnya. Life is mystery.






